Sources

Saya tak tahu ini sebuah keberuntungan atau kemalangan. Bakda ashar, persis setelah buang hajat di kamar mandi handphone yang dari tadi saya letakkan di dalam sepatu paling bauk yang saya punya berbunyi kenceng betul. Ini tak seperti biasanya.

Dari bunyinya, sepertinya itu adalah telpon dari orang-orang penting seperti petani yang dijarah jatah pupuknya, atau kaum dhuafa yang jatah bantuan rumahnya dirampas oleh orang-orang yang mendaku diri sebagai seorang bijak.

Rupanya feeling saya melesat sangat jauh. Bunyi handphone tersebut rupanya dari seorang “pengemis” kekuasaan yang tak punya urat malu. Setelah dua kali dia telpon tak saya angkat, akhirnya ia mengirim sebuah pesan singkat kira-kira bunyinya begini, “Anakku, bisa angkat telpon sebentar? Ada yang perlu saya bicarakan”.

Sources

FYI, dia adalah seorang anggota dewan yang sedang menjabat di daerah saya. Dan tujuan dia telpon sudah pasti ingin meminta bantuan mempromosikan dia agar kembali menang pada pileg 2019. Saya tahu betul tingkah orang-orang macam itu jelang pemilu. Karena hanya ada dua jenis orang baik jelang pemilu. Pertama orang yang betul-betul baik, kedua adalah orang yang sok-sok baik.

Karena saya tahu dia mau nyaleg lagi, berarti tak bisa tidak, ia pasti orang yang pura-pura baik yang memiliki tujuan untuk berkuasa satu periode lagi. Sebenarnya saya mau-mau saja memberi dukungan untuknya andai dia punya misi dan visi yang jelas dan merakyat.

Tetapi hal tersebut sama sekali tak dimilikinya. Selama empat tahun menjadi anggota dewan, tak ada satupun gebrakan yang ia buat untuk kesejahteraan rakyat. Memang anggota dewan lain ada? Sama aja emang. Sampah semua.

Kita semua tahu bahwa kebaikan yang mereka (anggota dewan) lakukan hanya saat kampanye. Dan kebaikan paling banter yang mereka lakukan palingan juga mengadakan lomba bola voli antar dusun. Memberi seragam olahraga dan satu buah bola mikasa kw seribu. Sudah. Itu saja.

Sources

Adapun setelah menjadi anggota dewan, mereka tak ubahnya seorang teman Whatsapp yang tiba-tiba hilang saat ditagih hutang. Tak ada perubahan. Tak juga gebrakan positif. Yang ada hanya terus mencuri, mencuri dan mencuri. Sampai mampus.

Lantas mereka masih punya muka untuk mencalonkan diri kedua kalinya. Aduhhhhh.. Hayati pengen bunuh diri. Caleg yang telpon ini pun demikian. Maka muncul ide di kepala saya untuk mengerjainya. Tak lama setelah saya balas pesannya, sang caleg menelpon lagi.

“Gimana kabarnya, Nak? Sehat?”,

tanyanya basa-basi.

“Ya,”

Saya jawab sekenanya saja. Lantas dia mulai mengigo,

“Daerah kita apa ya yang kira-kira bisa dibangun?”

Dia bertanya serius. Dalam hati saya mengumpat,

“Bangun ndasmu, semua harus dibangun di daerah kita. Terutama nalarmu yang longor itu..” untung saya masih punya sedikit sabar.

Akhirnya saya jawab,

“Gimana kalau kita bangun aja dulu rumah-rumah dhuafa yang masih reot. Terus kita buat juga satu unit warung kopi Cryptocurrency sebagai pusat diskusi dan literasi yang kekinian. Itu sangat futuristik,” lanjut saya semangat.

Di balik telepon dia menjawab,

“Rumah dhuafa memang sudah kita canangkan tuntas periode kedepan nanti. Itu prioritas. Lantas, Cryptocurrency itu apa, ya?”

Dari nada jawabannya dia betulan bertanya. Artinya, dia benar-benar gak tahu tentang Cryptocurrency. Yasalaammm…. Kolot beud.

Akhirnya saya menjelaskan panjang lebar tentang Cryptocurrency tentu saja sepengetahuan saya. Mendengar itu dia diam. Mungkin di sana dia kayak orang hisap lem aibon mendengar penjelasan saya tentang Cryptocurrency. Pusing, mual-mual lalu nabrak dinding.

Dia tak merespon apa-apa. Diam.. Tarik nafas.. Diamm lagi.. Garuk-garuk gigi… Diam lagi. Saya bosan. Tak lama kemudian biar gak sunyi amat saya kentut sekali,

“Dhuuummmm!!”

Dengan sedikit terkejut dia bertanya,

“Itu bunyi apaan yak?”

Karena sudah kepalang suntuk, saya jawab lagi suka-suka hati,

“Itulah bunyi Cryptocurrency, Pak. Itu udah matang kali makanya bunyinya besar. Makin matang makin besar suaranya..”

Dia cuma bilang,

“Hemmm..”

Sepertinya dia pecaya kalau bunyi kentut saya barusan sebagai perwujudan Cryptocurrency.. Wkwkwkwk.

Sepertinya dia udah habis pembahasan, akhirnya dia mohon pamit,

“Ya sudah. Nanti kita bicarakan lebih detail lagi tentang “proyek” kita. Doakan saja semoga Bapak kembali terpilih.”

“Ya, Pak”. Saya tutup telponnya sambil menahan muntah sekuatnya.

Sekian.

9 votes, average: 5.00 out of 59 votes, average: 5.00 out of 59 votes, average: 5.00 out of 59 votes, average: 5.00 out of 59 votes, average: 5.00 out of 5 (9 votes, average: 5.00 out of 5)
You need to be a registered member to rate this.
(1172 total tokens earned)
Loading...

Responses