Sources

Tragedi atas nama keadilan kembali terjadi di Indonesia. Undang-undang karet UU ITE kembali menelan korban. Seperti biasa, korbannya tentu saja dari kalangan bawah. Masyarakat akar rumput yang lemah tak berdaya. Adapun di depan orang kaya dan punya kurasa, hukum mendadak tumpul tak bertaring.

Adalah Bu Baiq Nuril. Seorang ibu rumah tangga yang juga mantan guru honorer bagian TU di Sekolah SMAN 7 Mataram. Ia adalah korban kasus pelecehan seksual secara verbal yang dilakukan oleh kepala sekolah di tempat dulu ia bekerja. Korban dan dipenjara. What the fck!*

Gilanya, alih-alih mendapat pembelaan karena telah dilecehkan, Bu Nuril justru ditahan 6 bulan penjara dan harus membayar denda 500 juta! Bangsat! Saya benar-benar geram dan naik darah membaca berita yang menimpa perempuan lemah ini. Ini adalah tragedi yang bisa saja terjadi pada kita dan keluarga kita.

Sources

Kasus absurd ini berawal pada tahun 2012. Suatu malam Bu Nuril ditelepon oleh kepsek di sekolah tempat dia bekerja. Pada saat teleponan itu, si kepsek ngomong kurang ajar. Ia bercerita tentang hubungan gelapnya dengan seorang perempuan yang kebetulan dikenal oleh Bu Nuril.

Saat itu Bu Nuril belum berani bertindak. Tetapi setelah hal tersebut beberapa kali terjadi, hingga si kepsek itu berani mengajak Bu Nuril nginap di hotel, barulah Bu Nuril berusaha “melawan” sebisanya. Ia berinisiatif merekam perbincangan itu kalau-kalau suatu saat orang-orang menuduhnya memiliki hubungan gelap dengan si kepsek.

Bukan tanpa sebab, karena selama ini gosip miring sudah tersebar di sekolahnya, bahwa Bu Nuril punya hubungan istimewa dengan laki-laki yang saya pikir punya kelainan itu. Pada 2015 rekaman itu tersebar di tengah-tengah masyarakat Mataram. Inilah yang kemudian membuat si kepsek malu dan naik darah. Malu? Setelah berbuat bejat malu? Biadab!

Sources

Tak lama kemudian si kepsek melaporkan Bu Nuril ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik via sosial media dan melanggar UU ITE. Itulah yang membuat Bu Nuril ditahan polisi pada 27 Maret 2017. Dia ditetapkan sebagai tersangka dengan kejadian yang sangat absurd dan menyesakkan dada.

Sebenarnya pada 26 Juli 2017 Bu Nuril sempat dinyatakan tak bersalah oleh majelis hakim PN Mataram dan ia dibebaskan. Tetapi kebejatan hukum dan mahalnya keadilan untuk orang miskin kembali terjadi. Pada 26 September 2018 majelis kasasi kembali memutuskan Bu Nuril bersalah atas kasus itu. Ia dihukum 6 bulan penjara dan denda 500 juta.

Kemudian, apa yang bisa kita ambil pelajaran dari kisah Bu Nuril? Ya, liciknya negeri kita. Betapa hukum dengan cepat memvonis orang-orang miskin dan takluk di hadapan orang-orang kaya dan punya kuasa. Dan ingat, kasus ini bisa saja terjadi pada saudara perempuan kita, anak perempuan kita. Karena apa? Karena kita hidup di negeri 1001 kelicikan. Kita semua berdoa untuk Bu Nuril. Semoga semesta dengan segala keajaibannya berpihak padanya.

9 votes, average: 5.00 out of 59 votes, average: 5.00 out of 59 votes, average: 5.00 out of 59 votes, average: 5.00 out of 59 votes, average: 5.00 out of 5 (9 votes, average: 5.00 out of 5)
You need to be a registered member to rate this.
(1712 total tokens earned)
Loading...

Responses