Kondisi Jalan Menuju Kuburan Cut Meutia

Pada hari ini Jumat 23 November  2018 saya cuma bisa bercerita sedikit tentang perjalanan yang saya alami ketika menuju lokasi kuburan Cut Nyak Meutia yang merupakan salah seorang pahlawan Aceh yang lahir di gampong Keureutoe, Kecamatan Pirak Timu , Aceh Utara pada  tahun 1870 dan beliau wafat di Alue Kureng Kabupaten  Aceh Utara pada tanggal 24 Oktober 1910.

Pada umumnya masyarakat Aceh mengenal sosok  Cut Meutia yang merupakan istri dari Teuku Chik Muhammad atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Chik Di Tunong yang dimakamkan di Moen Geudong, kota Lhokseumawe.

Pada tahun 2016 lalu,  saya bersama sahabat saya Zulfadlie kawom menjelajahi hutan belantara sambil mencari jejak pahlawan Aceh tempo dulu (Cut Nyak Meutia), pada perjalanan itu, pertama kali kami singgah di Rumah cut Meutia yang berada di Kecamatan Matang kuli,  Kabupaten Aceh Utara provinsi Aceh dan terlihat rumah tersebut  sudah direnovasi menjadi rumah modern, namun jangan heran dengan isi didalam rumah karena hanya terlihat beberapa fotocopy gambar tentang sejarah perlawanan Cut Meutia yang menghabisi kolonial Belanda, ada sumber yang mengatakan isi dan peninggalan dalam rumah itu hilang jejak dan tidak tau entah kemana.

Berikut gambar Rumah tersebut:

Rumah Cut Meutia Yang Sudah di renovasi

Namun pada waktu itu Mukim Matang Kuli menyebutkan peninggalan yang ada dirumah Cut Meutia sudah di Pindahkan ke koeta Raja atau Kota Banda Aceh (Sekarang) dan itu terjadi di masa Gubernur Muzakir Walad, tapi sampai saat ini pihaknya tidak bisa menenmukan kembali benda-benda peninggalan Cut Meutia salah satunya ialah pedang miliknya.

Setelah itu, kami Tancap gas dari rumah Cut meutia, saya bersama ajudan Zulfadlie Kawom melanjutkan perjalanan hingga sampai di Gampong Serdang Kecamatan Pirak Timu Kabupaten Aceh Utara, karena hari menjelang malam kami memilih tidur di Gampong itu untuk memulai perjalanan besok paginya.

paginya kami kembali melanjutkan perjalanan, namun sayangnya sampai sepertiga jarak untuk menuju kuburan itu kami kesulitan karena jalannya yang sangat licin dengan perbukitan berserakan bebatuan.

Yang membuat kami heran, petani dan pembawa kayu hasil tebangan di hutan itu seperti biasa saja melintasi jalan itu.

Ya sudahlah kami harus menyewa kendaraan mereka plus supirnya, Rp 350 Ribu/kereta, terus kami melanjutkan perjalanan.

Hingga matahari sudah mulai menghilang tibalah ajudan kami disana, dari pandangan mata, makam cut meutia bersama makam Teungku Supot seperti kuburan terlantar tanpa ada perawatan sama sekali, maklum mungkin jalannya agak susah dilewati oleh para Pejabat Parawisata yang berbaju warna lumpur itu.

Kuburan Cut Nyak Meutia

 

Kuburan Teugku Seupot

Namun yang sangat mengkhawatirkan jika rakyat kita terutama pejabat daerah tidak peduli dengan para pahlawan nasional tersebut.

Teungku Supot menurut sejarah, dia adalah gurunya Cut Meutia hingga kuburan mereka terasing di hutan belantara Pucok kreung Keureto.

Itulah sekilah perjalanan kami salam untuk semuanya, By @bustami

8 votes, average: 4.88 out of 58 votes, average: 4.88 out of 58 votes, average: 4.88 out of 58 votes, average: 4.88 out of 58 votes, average: 4.88 out of 5 (8 votes, average: 4.88 out of 5)
You need to be a registered member to rate this.
(901 total tokens earned)
Loading...

Responses