Salam sahabat trybe semua, kali ini saya punya sebuah puisi yang bertemakan “cinta” untuk anda baca. Jika anda pernah mengalami kisah cinta yang pahit dan rumit, saya rasa postingan ini cocok sekali untuk anda baca. Jika anda tipe orang yang mudah sedih, sebaiknya sediakan tisu!.

Kini seolah sedih dan hujan adalah teman sejalan. Aku tidak bisa lagi memelukmu saat hujan turun, meski setiap kali hujan aku selalu bisa menemukanmu dalam ingatan. Terkadang aku rindu pada kenangan-kenangan bersamamu. Tapi kupikir, kamu bukanlah sosok yang akan mengenang hal itu.

Kamu!

Seseorang yang dulu bersikeras mengajakku bertahan, seseorang yang berjanji setia sehidup semati. Katamu, apa pun yang terjadi tetaplah denganku, semua akan kita lewati bersama, begitu manis dan selalu meyakinkan, hal yang pada akhirnya membuatku sulit melupakanmu, bahkan dalam ingatan, kamu menjadi kisah sedih yang kini meninggakan pedih.

Setiap kali hujan turun, aku kembali mengenangmu, bahkan setiap detik yang berlalu.

Ingin lari, ingin menyudahi, tapi hati dan segala hal yang pernah terjadi tak mau lagi peduli dan tak bisa di ajak kompromi. Hujan kini tak lagi semenyenangkan saat bersamamu, begitu pun waktu yang berlalu, Hanya turun dengan rasa rindu yang berakhir pilu.

Karnamu, aku lupa cara mencintai yang lain, aku berubah menjadi sosok yang tak pernah kubayangkan, lalu kini kudapati diriku serapuh ini. Aku mampu mencintaimu segila ini, aku menyiksa diriku dengan luka dan air mata. Aku tau ini akan terjadi, aku bukanlah sosok yang kamu harapkan, aku tidak mengerti mengapa kau biarkan aku benar-benar mencintaimu, lalu pergi meninggalkan luka yang tak pernah kudapatkan penawarnya sampai detik ini.

Kamu seperti algojo bayaran, yang mampu menyiksaku secara perlahan, hatiku seperti mati, tidak ada sedikit pun ruang untuk mencintai. Dengan kesendirianku ini, kau bahagia dan tertawa, dengan rasa sakit dan penderitaan ini juga kau bisa bahagia. Tidak pernah kuduga skenariomu seindah ini, andai saja kutau mungkin aku tidak akan memilih berperan dalam kisah ini, tapi sayang, aku terlanjur ada, ternjur percaya, juga terlanjur cinta.

Andai aku bisa memutar waktu, aku lebih memilih tidak mengenalmu. Lantas, sekarang aku bisa apa, selain menunggu mati dan cinta yang telah pergi.

Kini, aku tidak tau apa yang menjadi alasanku merindukanmu. Aku sudah tak berhak. Aku tau kau muak dengan rinduku, aku tau kau benci. Tapi aku tetap saja rindu.

Aku merindukanmu. Sangat-sangat rindu. Kutau air mata tak pernah berarti bagimu. Ku juga tau kamu tidak butuh rinduku.

Cukup tau, kamu tidak harus percaya. Bukan sering, tapi selalu. Aku terus dan terus menangis merindukanmu. Aku juga tau kamu tidak pernah peduli. Tapi ngak apa-apa, aku baik-baik saja.

Kamu?

Segeralah menikah, agar aku segera mati. Setelah kehilanganmu kamu tau apa harapan terindahku?.

Aku ingin mati di hari pernikahanmu. Agar deritaku berakhir, dan bahagiamu sempurna.

Salam, @m-two.

(Postingan asli pernah saya posting di akun steemit saya atas nama @moexyn19)

9 votes, average: 4.89 out of 59 votes, average: 4.89 out of 59 votes, average: 4.89 out of 59 votes, average: 4.89 out of 59 votes, average: 4.89 out of 5 (9 votes, average: 4.89 out of 5)
You need to be a registered member to rate this.
(1295 total tokens earned)
Loading...

Responses