Source 

“Menjemput Rejeki di Awal 2019” , “80 juta”...beberapa hari lalu dan mungkin hingga saat ini masih ramai berseliweran di beranda Media Sosial, baik di Facebook, twitter, YouTube, Instagram. Setiap orang saling hujat, menghakimi pelaku dengan berbagai macam dalih. Mulai dari dalih yang religius hingga bermacam-macam kalimat kebun binatang. Terkadang saya heran, kenapa jempol seseorang sulit dikondisikan, begitu mudah menulis kata-kata hujatan tanpa berfikir dahulu. Maksud saya bagaimana jika itu saudara perempuan mereka, ibu mereka atau para perempuan yang dekat dengan mereka. Meski dengan dalih agama sekalipun mencaci, menghujat itu tidak diperbolehkan. “Berkata yang baik-baik kalau tidak diam”, tidak ada pilihan lagi.

Pada dasarnya tak ada seorang wanita yang mau menjual dirinya dengan harga termahal sekalipun “dengan cara yang salah”. Bahkan untuk menjadi yang kedua pun kadang, jiwa seorang perempuan itu murni menolaknya (dalam konteks poligami, jika bukan karena mencari keridhaan Tuhannya setiap perempuan pasti tidak mau berbagi suaminya pada orang lain). Dari jiwa perempuan yang bersih terlahir dari keluarga yang harmonis, hidupnya selalu lurus, menjaga kehormatannya, tak akan pernah mereka mau mengkomersialkan dirinya secara sadar. Ada sebuah latar belakang yang berperan besar hingga seorang perempuan memilih untuk mencemplungkan dirinya pada lembah komersial. Tetapi banyak orang amnesia tentang itu, bahkan tidak mau tau, hanya bisa menjudge..menjudge..dan menjaudge.

Banyak perempuan yang jauh dari bahagia diluar sana, hidup penuh tekanan, dibayangi dengan masalalu kelam yang membuatnya berfikir bahwa “hidupnya sudah kotor untuk apa harus berlagak bersih, nyemplung aja sekalian”. Perempuan yang terluka oleh perlakuan suaminya baik secara fisik maupun psikis, perempuan yang dilecehkan oleh rekannya, perempuan yang disiksa secara fisik oleh orang terdekat, perempuan yang dibully karena tidak menikah hingga usia matang, perempuan yang tidak pernah merasa bagaimana rasanya dicintai dan dibela mati-matian oleh pasangannya, perempuan yang harus bekerja keras untuk memberikan makan anak-anaknya karena suaminya tidak bertanggung jawab, sekedar menjadi obyek biologis tanpa sebuah kasih sayang. Banyak hal dari perempuan yang tanpa banyak orang tau bahwa itu luka. Tanpa sebuah dukungan suatu saat luka itu menjelma menjadi boomerang bagi perempuan itu sendiri, dan berfikir “untuk apa menjadi perempuan baik-baik…toh tidak ada yang mau peduli”.

Tidak ada lagi branding pada diri mereka karena harga dirinya rapuh, telah dihancurkan secara sistematis oleh orang-orang di sekitarnya. Perempuan perlu dihargai, didukung untuk pulih dari sebuah kondisi tak mengenakkan dalam hidupnya, ketika mereka tak tahu harus gimana dan ke mana. Bantu mereka membenahi fondasi yang hancur meski hanya sekedar dukungan kata-kata, agar mereka mampu mengenal tentang diri mereka lagi, harapan untuk tetap bisa menatap esok hari.

Tak banyak orang yang mau mengerti bagaimana menghargai perempuan. Bahkan untuk perempuan yang berprofesi hina sekalipun, jangan pernah dikira hidupnya hanya demi uang. Uang mungkin hanya penutup dari luka, alat untuk bertahan hidup, atau alat untuk balas dendam pada lelaki. Penutup dari puing-puing kehancuran yang pernah ada.

19 votes, average: 5.00 out of 519 votes, average: 5.00 out of 519 votes, average: 5.00 out of 519 votes, average: 5.00 out of 519 votes, average: 5.00 out of 5 (19 votes, average: 5.00 out of 5)
You need to be a registered member to rate this.
(2892 total tokens earned)
Loading...

Responses