Di tempat saya tinggal ada orang-orang yang membuka usaha cuci mobil dan menjual makanan seperti warteg. Dia mulai merintis bisnisnya dari kesendirian sampai akhirnya ramai. Setelah uang sewa yang sibuk dinaikkan oleh pemilik tanah, seterusnya, sampai harga yang tidak dapat dipenuhi seorang pengusaha dihitung. Dengan enggan akhirnya penyewa pindah. Buka bisnis di tempat baru. Masih di sepanjang jalan juga. Dan ternyata pemilik tanah sekarang juga mendirikan bisnis cuci mobil.

Kemarin ketika dia bertemu dengan seorang teman lama, dia juga mengatakan kepada saya bahwa di daerahnya banyak restoran ditutup karena alasan yang sama. Sewa hingga penyewa (pengusaha restoran) tidak mampu membayar, maka restoran diperoleh.

 

[Source](https://pixabay.com/photo-2696229/) 

Yang menarik dari apa yang saya lihat dan dengar, ceritanya berakhir sama. Begitu pemilik tanah mengambil alih bisnisnya, bahkan bisnisnya bangkrut atau kesepian. Jika menurut teman saya, ini terjadi karena perhatian yang berbeda. Perhatian penyewa adalah di restoran atau bisnis, sementara perhatian pemilik hanya uang instan, atau dengan kata lain pemilik tanah cemburu. “Jika saya memiliki bisnis seperti itu, saya bisa mendapatkan dua kali lipat, maka dia hanya menyewa masih bisa untung dan usahanya meningkat”, mungkin begitu pola pikir pemilik tanah ha ha ha.

Di sinilah mekanisme “Energy Flows Where Attention Goes” berfungsi.

 

[Source](https://pixabay.com/photo-1015125/) 

Orang yang cemburu sebenarnya memberikan energi rezeki gratis kepada orang yang mereka cemburui. Akibatnya, tentu saja, usahanya sendiri menjadi kekurangan energi, karena sikap yang sebenarnya tidak masuk ke bisnisnya, tetapi lebih kepada keberhasilan orang lain.

Perhatian lebih dalam dari pemilik tanah sebenarnya juga tidak peduli apa bisnisnya, apa yang penting dalam pikirannya tentu menghasilkan banyak uang atau tidak. Menurut saya, ini adalah kesalahan berikutnya. Rupanya dia lupa bahwa uang hanyalah alat tukar. Uang sejati hanyalah sarana pertukaran dalam arti yang sebenarnya.

Uang adalah sarana pertukaran energi. Ketika perhatian diarahkan pada uang, uang menjadi bingung, karena tujuan pembuatnya, dari niat manusia untuk menciptakannya, uang dimaksudkan sebagai alat tukar. Sebagai alat tukar, itu adalah energi mengambang yang bergerak ke arah di mana ada energi yang menarik. Energi yang menarik adalah hal-hal yang memudahkan kehidupan manusia, baik dalam bentuk penyediaan barang dan jasa.

Ketika ada orang yang mencari barang dan jasa untuk memudahkan kehidupan orang lain, maka ada energi yang menarik datangnya uang. Jadi uang sungguhan itu bukanlah sesuatu yang perlu diberi perhatian berlebihan karena itu benar-benar hanya alat tukar. Yang perlu diperhatikan justru kontribusi yang Anda buat untuk memudahkan kehidupan orang lain. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, rezeki adalah segala hal yang memudahkan kehidupan manusia. Dengan demikian, semakin Anda berkontribusi terhadap kemudahan hidup manusia lain, tentu saja semakin besar pula keberuntungan Anda.

Itulah mengapa Nabi Muhammad pernah berkata bahwa “manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”. Dalam dunia bisnis, semangat pesan Nabi dapat dilihat dari pertumbuhan pola pikir baru di kalangan pebisnis bahwa persaingan saat ini menjadi tidak relevan, karena yang terjadi adalah penciptaan atau inovasi nilai, yang kemudian mengarah pada diferensiasi. Dengan kata lain, menciptakan produk (baru) bukan untuk mengalahkan pesaing, tetapi didorong oleh niat murni untuk menciptakan nilai tambah, yang pada gilirannya akan menciptakan produk yang unik. Jadi fokusnya adalah pada kegunaan, bukan pada “persaingan” yang dapat memicu “kecemburuan”, dan bukan pada “uang”. Meskipun pada akhirnya uang juga diharapkan, proses datang ke uang harus ditukar dengan manfaat kualitas barang dan jasa.

 

[Source](https://pixabay.com/photo-1604921/) 

Jadi jika Anda memiliki bisnis, Anda hanya harus fokus pada bisnis Anda sendiri, tidak perlu memikirkan bisnis orang lain, memberikan perhatian bisnis Anda, berpikir tentang keuntungan dalam memberikan manfaat kepada orang lain dari bisnis Anda. Cobalah untuk membuat Anda tetap tenang dan orang lain yang datang ke tempat Anda juga merasakan hepi. Insya Allah, usaha Anda akan jauh lebih menarik bagi rezeki untuk datang kepada Anda.

Regards, @nawarrado

5 votes, average: 5.00 out of 55 votes, average: 5.00 out of 55 votes, average: 5.00 out of 55 votes, average: 5.00 out of 55 votes, average: 5.00 out of 5 (5 votes, average: 5.00 out of 5)
You need to be a registered member to rate this.
(876 total tokens earned)
Loading...

Responses